Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perbandingan Bisnis Properti dan Bisnis Kos - Kosan

Bisnis Properti dan Bisnis Kos - Kosan, Begini Perbandigannya

Hariantrendingtopik.com - Antara bisnis properti dan bisnis kos - kosan keduanya memiliki arah tujuan yang berbeda, namun antara membeli dan menyewa keduanya mempunyai target pasar yang sama besar.

Maksud Kang Hartrop mencoba membuat perbandingan antara bisnis properti dan bisnis kos kosan bukan tanpa tujuan, melainkan jika kita punya modal perseorangan yang terbatas mana yang lebih baik ?

Latar Belakang Kenapa Bisnis Properti atau Kos Kosan

Latar Belakang Kenapa Bisnis Properti atau Kos Kosan

Sederhana saja, kedepannya para pencari kerja yang notabene adalah target pasar untuk kedua bisnis ini akan lebih dominan meninggalkan kampung halamannya dan mencari kerja di kota besar.

Nah, di kota target urban itulah lebih baik terjun ke bisnis properti atau bisnis kos kosan. Keduanya memiliki variabel yang sangat kuat, bisnis properti dengan target pasar membeli hunian atau bisnis kosan dengan target pasar menyewa hunian.

Dengan latar masalah tersebut pastinya kita harus menimbang mana yang akan lebih diminati kedepannya karena trend pasar bisa berubah ubah.

Kalau kamu punya sumber modal tanpa batas ya ambil semua saja, tapi kalau terbatas dan bahkan baru mulai seperti Kang Hartrop, pertimbangan ini akan jadi hal yang cukup penting.

Antara Bisnis Properti dan Bisnis Kos Kosan


1. Harga dan Pendapatan

1. Harga dan Pendapatan

Faktor perbandingan pertama tentunya dari soal harga dan mengingat kondisi pendapatan yang pasti berubah secara persentase karena adanya aturan aturan baru.

Intinya kedepan nominal pendapatan akan terlihat besar, namun karena inflasi nilainya semakin kecil. Cara mengatur keuangan rumah tangga.

Sedangkan genari mendatang atau yang sekarang disebut milenial hampir tidak mungkin memutuskan membeli sebuah hunian hanya untuk tempat tinggal dalam kepentingan kerja apalagi hampir sebagian pekerja baru langsung hampir semua terkena aturan kontrak.

Bicara dalam persentase lapangan di tahun ini atau era 21 hanya ada 1 dari 20 orang pencari kerja yang langsung mendapatkan posisi tetap, itupun dengan segala faktor yang tidak bisa dirinci satu persatu.

Yang artinya hampir 90% pencari kerja yang sudah mendapatkan tempat pekerjaan masih mengalami kebingungan apakah akan menetap lama diperusahaan tersebut atau tidak dengan nilai pendapatan 20%-40% diatas ambang UMR. Anggap saja di Jakarta rata rata 5-7 juta perbulan.

Dengan perhitungan kasar tersebut, bisa Kang Hartrop simpulkan secara gamblang minat dari pekerja atau milenial mulai sekarang dan kedepannya lebih memilih sewa daripada membeli sebuah hunian. jadi dari sisi janga waktu 5-10tahun kedepan bisnis kos kosan lebih unggul.

2. Berpikir Dari Nilai Investasi

2. Berpikir Dari Nilai Investasi

Memikirkan dari sisi nilai investasi yang pasti diperhitungkan milenial, kesempatan bisnis properti mengukuhkan diri sangat besar hampir bisa dikatakan 50:50 karena pasti ada orang-orang berpikiran jauh kedepan.

Langsung saja di kota besar bisnis properti akan lebih kuat di apartement dengan rentang harga 300-500juta dan di kota area kabupaten berupa kompleks perumahan baru dengan nilai harga yang hampir sama.

Faktor penguat dari peminatan nilai investasi bisnis properti adalah mulai banyak sistem pembayaran dengan cicilan ringan terutama untuk apartemen. Cara investasi emas yang mudah.

Apalagi konsep hunian antiriba syariah mulai tumbuh subur dengan jargonnya perumahan murah, angsuran ringan tanpa denda. Dengan demikian nilai investasi akan sama kuatnya dengan faktor penghasilan.

Berlandaskan satu syarat pasti yaitu lingkungan yang tepat, artinya mungkin dilingkungan orang yang sudah mendapatkan tempat yang tetap, bisnis properti akan lebih unggul daripada bisnis kostan.

3. Perbedaan Target Pasar

Dari nilai harga yang harus dibayarkan dalam 1 bulan, antara bisnis properti dan bisnis kost kosan terbilang sangat imbang.

Bagaimana tidak untuk menyewa satu rumah untuk satu keluarga bisa 2-3 juta, untuk mencicil apartemen dengan harga jual 400-500 juta juga hampir sama 3 juta an.

Pada nilai ini artinya perbedaan target hanyalah posisi penempatan kerja apakah pekerjaan yang sudah tetap atau pekerjaan yang memberikan kesempatan keluar dalam masa kerja tertentu.

Disini media promosi harus digunakan dengan tepat sehingga target calon konsumennya sesuai dengan salah satu penawaran antara membeli hunian atau sewa.

4. Potensi Lokasi dan Rasa Keamanan

Kemudian mempertimbangkan potensi lokasi dan rasa keamanan, maksud Kang Hartrop di lokasi yang nantinya kita bangun hunian untuk dijual atau disewakan harus memberikan rasa aman bisa dari tindak kejahatan ataupun dari bencana.

Jika demikian, bisnis properti bisa mendapatkan penilaian unggu karena lokasi yang dibeli berukuran luas dan dalam satu titik sedangkan bisnis kos kosan sejatinya harus menyebar di banyak titik.

Bisnis properti akan lebih memiliki perhitungan perencanaan yang lebih baik dengan survey lokasi yang bisa dilakukan berulang ulang sedangkan bisnis kos kosan lebih tergantung kepada lokasi dimana juga terdapat banyak kos (area kos kosan).

5. Persentas Passive Income dan Modal

Terakhir yang perlu dipertimbangkan yaitu ketersediaan modal dan berapa nilai persentase passive income yang didapatkan. Anggap saja bisnis kos keluarga dan penjualan unit bisnis properti.

Tentu dalam pertimbangan ini bisnis kos akan lebih unggu karena nilai passive income nya sepanjang masa selama dilokasi tersebut masih menjadi kawasan pekerja.

Sedangkan bisnis properti lebih mengejar sisi kualitas keuntungan dan perputaran modal yang hampir bersamaan, karenanya nilai passive income hampir tidak terlihat disana kecuali unit sudah dibeli orang dan disewakan kembali, artinya masuk ke bisnis kos kosan dengan membeli sebuah properti.

Jadi Bisnis Properti atau Bisnis Kos Kosan ?


Dari pertimbangan beberapa poin diatas, Kang Hartrop mendapatkan sebuah benang merah dari perbandingan antara bisnis properti dan bisnis kos kosan. Pilihannya ditentukan dari tujuan pelaku bisnis.

Artinya ada dua jenis tujuan yang bisa kita kejar dan harus memilih salah satunya, kalau kita tertarik ke nilai investasi maka bisnis properti lah yang harus dipilih, jika kita tertarik ke nilai passive income maka bisnis kos kosan yang harus dipilih. Sekian, semoga artikel ini bermanfaat.